oleh Mokhamad Faisol | Senin, 22 Agustus 2022 | Kabar Berita
Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Pasuruan menggelar Konferensi Cabang (Konferancab) di Hotel Dalwa Raci, Kecamatan Bangil, Pasuruan, Ahad (21/08/2022). Konfercab tersebut menetapkan Ahmad Adip Muhdi kembali terpilih sebagai Ketua PC ISNU Kabupaten Pasuruan secara aklamasi.
Ahmad Adip Muhdi mengatakan, kepungurusan yang akan datang harus lebih baik lagi dari kepengurusan yang sekarang. Oleh karena itu, di periode yang kedua pihaknya menekankan agar kader ISNU benar-benar berkomitmen untuk berkhidmat di Nahdlatul Ulama.
“Salah satu bentuk komitmen pengurus ISNU kepada PCNU Kabupaten Pasuruan yakni ikut mensukseskan gerakan urunan RSNU Pasuruan yang sekarang masih dalam proses pembangunan,” ujarnya.
Dirinya menyampaikan, pada dasarnya ia mengaku tidak berambisi menjadi Ketua ISNU Kabupaten Pasuruan kembali. Namun, berdasarkan hasil Konfercab yang diikuti Pimpinan Anak Cabang (PAC) ISNU se-Pasuruan tetap memberikan amanah kepadanya.
“Menjadi pengurus itu bisa menjadi ringan jika kita niatkan untuk khidmah di NU, sehingga hidup kita menjadi berkah,” katanya.
Sementara Direktur Pascasarjana IAI Dalwa Habib Zainal Abidin mengatakan, kader ISNU Pasuruan harus meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), yakni dengan melanjutkan pendidikan hingga S3. “Jika banyak kader ISNU yang sudah menjadi profesor, doktor ataupun guru besar, kemungkinan akan banyak pondok pesantren yang memiliki perguruan tinggi hingga pascasarjana,” ucapnya.
Menurutnya, persoalan utama mendirikan pascasarjana di perguruan tinggi pesantren adalah minimnya SDM. Oleh karena itu, jika banyak kader ISNU yang melanjutkan pendidikan hingga S3, maka pendirian pascasarjana di perguruan tinggi pesantren akan lebih mudah.
“Setahu saya pondok pesantren yang memiliki perguruan tinggi hingga S3 adalah Gontor, Dalwa dan Amanatul Ummah,” tuturnya.
Ia mengatakan, kader ISNU secara pemikiran sudah bagus. Namun, yang perlu diperbaiki soal penampilan. “Karena penampilan menjadi hal yang pertama kali dilihat orang,” pungkasnya.
oleh Mokhamad Faisol | Senin, 22 Agustus 2022 | Kabar Berita
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan KH Imron Mutamakkin mengatakan, saat ini banyak mahasiswa di perguruan tinggi kurang mengerti tata krama terhadap gurunya. Hal itu di ungkapkan pada saat Konferensi Cabang (Konfercab) Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Pasuruan di Hotel Dalwa Raci, Kecamatan Bangil, Pasuruan Ahad (21/08/2022).
“Meskipun mahasiswa sudah pandai dibanding gurunya, mahasiswa harus tetap menghormati gurunya karena gurulah yang membuat dirinya pintar,” katanya.
Menurutnya, ISNU harus bisa menanamkan tata krama di perguruan tinggi. “Saat ini budaya tata krama hampir tidak diterapkan di perguruan tinggi. Oleh karena itu, ke depan ISNU harus bisa menanamkan tata krama,” ujar Gus ipong sapaan akrabnya.
Sementara itu, Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Ali Maschan Moesa mengungkapkan, saat ini literasi bangsa Indonesia sangat rendah, yaitu urutan 59 dari 61 negara. Maka tugas ISNU adalah meningkatkan literasi anak-anak bangsa khususnya di era digital.
“Pondasi dari segala sesuatu sesungguhnya bermuara fokus pada kemampuan literasi bahasa dan membaca,” ungkapnya.
Menurut Kiai Ali Maschan, berdasarkan hasil penelitian lalu United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) negara Indonesia merupakan negara yang mayoritasnya kurang sopan di urutan ke 29 setelah negara Rusia.
“Banyak sekali tugas ISNU ke depan, namun ada dua hal yang perlu digaris bawahi, pertama meningkatkan literasi kedua mengembalikan lagi budaya tata krama,” terangnya.
Acara tersebut dihadiri oleh jajaran perwakilan PW ISNU Jawa Timur, Ketua PCNU Bangil, Ketua PC ISNU Kota Pasuruan, Direktur Pascasarjana IAI Dalwa dan PAC ISNU se-Pasuruan.
oleh Mokhamad Faisol | Sabtu, 1 Januari 2022 | Buku
Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Pasuruan meluncurkan buku berjudul ‘Tradisi Pendidikan Nilai di Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren’ karya Vialinda Siswati. Kegiatan ini dilaksanakan di lantai 3 Hotel Dalwa Syariah, Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jumat (31/12/2021).
Vialinda Siswati selaku penulis buku mengatakan, pendidikan nilai di pesantren merupakan wujud kekhawatiran terhadap generasi muda yang rentan terpengaruh budaya negatif.
“Pendidikan nilai di pondok pesantren dirancang dan disususn dengan berlandaskan ayat suci Al-Qur’an serta hadist. Seperti kemandirian dan keikhlasan yang sangat diperlukan oleh generasi muda saat ini dalam membangun peradaban yang baik,” ujarnya kepada NU Online Jatim, Sabtu (01/01/2022).
Vialinda menjelaskan, buku yang ditulisannya berdasarkan hasil riset di dua lembaga pendidikan, yaitu Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah dan Pondok Pesantren Modern Gontor.
“Saya melihat dua itu, dan ini merupakan solusi yang sangat baik sekali. Untuk kedepan nilai-nilai kedua pesantren ini bisa dikembangkan menjadi model pendidikan yang Islami khas Nusantara, sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan bahwa bukunya itu membahas tentang tradisi pesantren dengan menggambarkan tradisi-tradisi akademik. Semacam kata al-muhafadzah ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Atau mempertahankan nilai-nilai lama yang baik, kemudian dengan tidak menolak nilai-nilai baru yang lebih baik.
“Dengan demikian kita bisa menerima suatu kombinasi mempertahankan nilai tradisi pesantren yang lama. Semacam hidup sederhana, mandiri, santun, kemudian mengedepankan akhlak mulia dengan tradisi baru yang itu juga mengikuti perkembangan zaman,” jelasnya.
Ia berharap, tulisannya itu dibaca oleh banyak orang terutama praktisi pesantren, pendidikan dan para mahasiswa. Sehingga menjadi inspirasi untuk pengelola lembaga pendidikan formal ataupun pesantren.
“Mudah-mudahan bermanfaat untuk pesantren, lembaga pendidikan, ilmu pengetahuan di Indonesia dan seluruh dunia,” tandasnya.
Ketua ISNU Kabupaten Pasuruan Ahmad Adip Muhdi mengatakan, ada tiga alasan seseorang menjadi harus membaca buku karya Vialinda itu.
Pertama, karena itu hasil penelitian disertasi, pasti ada rumusan teori baru yg ditawarkan. Kedua, sudah diedit ulang oleh tim editor dari penerbit, sehingga menjadi lebih mudah dipahami walaupun oleh kalangan umum.
Ketiga, buku ini menunjukkan bahwa khazanah pesantren itu sangat luas dan mendalam tentang kajian pesantren.
“Mudah-mudahan buku Tradisi Pendidikan Nilai di Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren bisa menginspirasi pembaca, sehingga tidak meragukan kualitas pesantren,” tutupnya.
oleh Mokhamad Faisol | Sabtu, 1 Januari 2022 | Buku
Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Pasuruan dan Institut Agama Islam (IAI) Darullughah Wadda’wah menggelar Seminar Nasional dan Bedah Buku, Jumat (31/12/2021). Kegiatan ini dilaksanakan di lantai 3 Hotel Dalwa Syariah, Bangil, Kabupaten Pasuruan.
Ketua ISNU Kabupaten Pasuruan Ahmad Adip Muhdi mengatakan, ISNU Kabupaten Pasuruan sejak awal berkomitmen untuk mendukung, mendorong dan bahkan menfasilitasi tumbuh kembangnya budaya literasi di masyarakat.
“Problem kita hari ini literasi di kalangan masyarakat masih rendah. Jadi, ISNU punya kewajiban untuk memfasilitasi kegiatan-kegiatan pengembangan literasi. Baik dosen, pelajar dan masyarakat,” ujarnya kepada NU Online Jatim.
Lebih lanjut Adib menegaskan, ISNU harus menjadi penggerak untuk meningkatkan literasi. Sebab, ISNU memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni terdiri dari para sanrjana berkompeten.
“Sebagian besar mereka adalah para guru dan dosen. Baik S-1, S-2 bahkan S-3 terhimpun menjadi satu di ISNU,” imbuhnya.
Adib juga menyampaikan, selain melaksanakan seminar, ISNU juga meluncurkan buku yang berjudul ‘Tradisi Pendidikan Nilai di Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren’. Buku tersebut merupakan karya dari Vialinda Siswati.
“Buku yang direview awalnya merupakan disertasi. Karena tema yang diangkat sangat urgen, maka ISNU memfasilitasi untuk menerbitkannya dan menyebarluaskan buku tersebut,” ujarnya.
Dosen ITSNU-STAIS Pasuruan tersebut juga berharap, anggota dan pengurus ISNU Kabupaten Pasuruan semakin meningkatkan kegiatan penelitian dan pendampingan masyarakat. Sehingga bisa menghasilkan karya yang dibutuhkan oleh masyarakat.
“Saya berharap ISNU bisa membuat penelitian dan menerbitkan hasil pemikirannya khususnya dalam mengembangakan pendidikan di Kabupaten Pasuruan,” ungkapnya.
Seminar ini dihadiri oleh angggota ISNU dari setiap perguruan tinggi se-Kabupaten Pasuruan. Selain itu, ada pula perwakilan Pimpinan Anak Cabang (PAC) ISNU dari 24 kecamatan dan Direktur Pascasarjana IAI Dalwa, Zainal Abidin.
oleh Mokhamad Faisol | Kamis, 16 Desember 2021 | Apresiasi Wisuda
Sekolah Tinggi Agama Islam Shalahuddin (STAIS) Pasuruan menggelar wisuda ke XVI 2021- 2021 pada Rabu (15/12/2021) di Fina Golf Conty Club Prigen, Kabupaten Pasuruan. Dalam acara ini Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Pasuruan mengapresiasi wisudawan wisudawati terbaik STAIS Pasuruan dengan memberikan total uang sebesar Rp 2 juta.
Sekolah Tinggi Agama Islam Shalahuddin (STAIS) Pasuruan menggelar wisuda ke XVI 2021- 2021 pada Rabu (15/12/2021) di Fina Golf Conty Club Prigen, Kabupaten Pasuruan. Dalam acara ini Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Pasuruan mengapresiasi wisudawan wisudawati terbaik STAIS Pasuruan dengan memberikan total uang sebesar Rp 2 juta.
Sekolah Tinggi Agama Islam Shalahuddin (STAIS) Pasuruan menggelar wisuda ke XVI 2021- 2021 pada Rabu (15/12/2021) di Fina Golf Conty Club Prigen, Kabupaten Pasuruan. Dalam acara ini Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Pasuruan mengapresiasi wisudawan wisudawati terbaik STAIS Pasuruan dengan memberikan total uang sebesar Rp 2 juta.
Lebih lanjut Adib sapaan akrabnya mengatakan komunitas yang diayomi ISNU Kabupaten Pasuruan ada tiga yakni calon sarjana, sarjana dan pascasarjana.
“Program ISNU adalah mengapresiasi calon sarjana, sarjana dan pascasarjana terbaik Kabupaten Pasuruan adalah memberikan reward di kampus Kabupaten Pasuruan,” ujarnya.
Dosen ITSNU STAIS Pasuruan tersebut juga mengatakan kriteria wisudawan terbaik yang dinilai adalah lulus dengan IPK tertinggi di antaranya atas nama Riska Rahayu Afiah, Tholabatul Mufidah dan Miftahul Jannah.
“Terbaik satu mendapatkan uang saku sebesar Rp 1,5 juta, terbaik dua dan tiga mendapatkan uang saku sebesar Rp 250 ribu,” ujarnya
Ia berharap kepada wisudawan wisudawati STAIS Pasuruan setelah menjadi sarjana tidak kehilangan ciri ke-NU-annya saat lulus.
“Mereka tentu diharapkan lebih mengenal eksistensi ISNU dan kelak menjadi pengurus ISNU baik di level kecamatan maupun kabupaten,” harapannya.
Sementara Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan KH Imron Mutamakkin mengatakan menuntut ilmu tidak hanya berhenti saat sarjana, namun dimana pun kita harus menuntut ilmu, karena kehidupan kita ini terus berjalan dan belajar.
“Sebagai mana hadist yang kita ketahui carilah ilmu sampai ke liang lahat,” ujarnya.
Gus Ipong sapaan akrabnya berharap wisudawan yang lulus harus bisa memanfaatkan gelar yang didapat khusus di dalam masyarakat dan lingkungan sekitar.
“Ilmu yang manfaat adalah ilmu yang berguna bagi orang lain,” tutupnya.