Sebagai sumbangsih sarjana Nahdliyin kepada umat, Pengurus Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Pasururan menghibahkan buku terbitannya ke berbagai perpustakaan kampus UIN, IAIN, dan UNU se pulau Jawa. Hibah buku ini diserahkan secara simbolis kepada beberapa pengelola perpustakaan kampus dan Pengurus Wilayah (PW) ISNU Jawa Timur pada momentum buka bersama di kantor PW ISNU di Gayungsari Surabaya, Ahad (17 April 2022).
Buku yang disumbangkan tersebut merupakan buku terbitan PC ISNU Pasuruan ke-10 yang berjudul Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) PAUD QIRA’ATI yang ditulis oleh Sumarni.
Selama periode 2018-2022, PC ISNU Kab. Pasuruan secara istiqomah menerbitkan beberapa buku yang merupakan karya para sarjana di Kab. Pasuruan. Program ini terlaksana juga berkat kerjasama dengan berbagai pihak khususnya penerbit Literasi Nusantara Malang.
ISNU Pasuruan yang dinahkodai oleh Ahmad Adip Muhdi akan terus melakukan kerja nyata dengan semua kader untuk mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan bangsa dan negara. “Buku adalah sumber ilmu dan ilmu adalah pencerah peradaban”, tuturnya.
Menurut Adip, Hibah buku yang diberikan tersebut guna meningkatkan literasi pada civitas kampus. Hal ini penting mengingat kesadaran dan semangat literasi menjadi penentu lahirnya generasi yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas di tengah perkembangan teknologi dan persaingan global yang makin ketat dewasa ini.
Lebih lanjut saat menerima hibah buku ini, Ketua PW ISNU Jatim, Mas’ud Said mengapresiasi capaian kinerja ISNU Pasuruan dalam pengembangan literasi. “Semoga ini membawa kebaikan bagi kita semua, termasuk kemajuan bagi bangsa Indonesia,” ujarnya.
Menurut Mas’ud Said, ISNU Pasuruan mampu berada di garda terdepan untuk memberikan solusi-solusi atas problem yang ada di masyarakat, menciptakan inovasi-inovasi yang meneguhkan posisi ISNU.
Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Pasuruan meluncurkan buku berjudul ‘Tradisi Pendidikan Nilai di Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren’ karya Vialinda Siswati. Kegiatan ini dilaksanakan di lantai 3 Hotel Dalwa Syariah, Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jumat (31/12/2021).
Vialinda Siswati selaku penulis buku mengatakan, pendidikan nilai di pesantren merupakan wujud kekhawatiran terhadap generasi muda yang rentan terpengaruh budaya negatif.
“Pendidikan nilai di pondok pesantren dirancang dan disususn dengan berlandaskan ayat suci Al-Qur’an serta hadist. Seperti kemandirian dan keikhlasan yang sangat diperlukan oleh generasi muda saat ini dalam membangun peradaban yang baik,” ujarnya kepada NU Online Jatim, Sabtu (01/01/2022).
Vialinda menjelaskan, buku yang ditulisannya berdasarkan hasil riset di dua lembaga pendidikan, yaitu Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah dan Pondok Pesantren Modern Gontor.
“Saya melihat dua itu, dan ini merupakan solusi yang sangat baik sekali. Untuk kedepan nilai-nilai kedua pesantren ini bisa dikembangkan menjadi model pendidikan yang Islami khas Nusantara, sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan bahwa bukunya itu membahas tentang tradisi pesantren dengan menggambarkan tradisi-tradisi akademik. Semacam kata al-muhafadzah ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Atau mempertahankan nilai-nilai lama yang baik, kemudian dengan tidak menolak nilai-nilai baru yang lebih baik.
“Dengan demikian kita bisa menerima suatu kombinasi mempertahankan nilai tradisi pesantren yang lama. Semacam hidup sederhana, mandiri, santun, kemudian mengedepankan akhlak mulia dengan tradisi baru yang itu juga mengikuti perkembangan zaman,” jelasnya.
Ia berharap, tulisannya itu dibaca oleh banyak orang terutama praktisi pesantren, pendidikan dan para mahasiswa. Sehingga menjadi inspirasi untuk pengelola lembaga pendidikan formal ataupun pesantren.
“Mudah-mudahan bermanfaat untuk pesantren, lembaga pendidikan, ilmu pengetahuan di Indonesia dan seluruh dunia,” tandasnya.
Ketua ISNU Kabupaten Pasuruan Ahmad Adip Muhdi mengatakan, ada tiga alasan seseorang menjadi harus membaca buku karya Vialinda itu.
Pertama, karena itu hasil penelitian disertasi, pasti ada rumusan teori baru yg ditawarkan. Kedua, sudah diedit ulang oleh tim editor dari penerbit, sehingga menjadi lebih mudah dipahami walaupun oleh kalangan umum.
Ketiga, buku ini menunjukkan bahwa khazanah pesantren itu sangat luas dan mendalam tentang kajian pesantren.
“Mudah-mudahan buku Tradisi Pendidikan Nilai di Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren bisa menginspirasi pembaca, sehingga tidak meragukan kualitas pesantren,” tutupnya.
Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Pasuruan dan Institut Agama Islam (IAI) Darullughah Wadda’wah menggelar Seminar Nasional dan Bedah Buku, Jumat (31/12/2021). Kegiatan ini dilaksanakan di lantai 3 Hotel Dalwa Syariah, Bangil, Kabupaten Pasuruan.
Ketua ISNU Kabupaten Pasuruan Ahmad Adip Muhdi mengatakan, ISNU Kabupaten Pasuruan sejak awal berkomitmen untuk mendukung, mendorong dan bahkan menfasilitasi tumbuh kembangnya budaya literasi di masyarakat.
“Problem kita hari ini literasi di kalangan masyarakat masih rendah. Jadi, ISNU punya kewajiban untuk memfasilitasi kegiatan-kegiatan pengembangan literasi. Baik dosen, pelajar dan masyarakat,” ujarnya kepada NU Online Jatim.
Lebih lanjut Adib menegaskan, ISNU harus menjadi penggerak untuk meningkatkan literasi. Sebab, ISNU memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni terdiri dari para sanrjana berkompeten.
“Sebagian besar mereka adalah para guru dan dosen. Baik S-1, S-2 bahkan S-3 terhimpun menjadi satu di ISNU,” imbuhnya.
Adib juga menyampaikan, selain melaksanakan seminar, ISNU juga meluncurkan buku yang berjudul ‘Tradisi Pendidikan Nilai di Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren’. Buku tersebut merupakan karya dari Vialinda Siswati.
“Buku yang direview awalnya merupakan disertasi. Karena tema yang diangkat sangat urgen, maka ISNU memfasilitasi untuk menerbitkannya dan menyebarluaskan buku tersebut,” ujarnya.
Dosen ITSNU-STAIS Pasuruan tersebut juga berharap, anggota dan pengurus ISNU Kabupaten Pasuruan semakin meningkatkan kegiatan penelitian dan pendampingan masyarakat. Sehingga bisa menghasilkan karya yang dibutuhkan oleh masyarakat.
“Saya berharap ISNU bisa membuat penelitian dan menerbitkan hasil pemikirannya khususnya dalam mengembangakan pendidikan di Kabupaten Pasuruan,” ungkapnya.
Seminar ini dihadiri oleh angggota ISNU dari setiap perguruan tinggi se-Kabupaten Pasuruan. Selain itu, ada pula perwakilan Pimpinan Anak Cabang (PAC) ISNU dari 24 kecamatan dan Direktur Pascasarjana IAI Dalwa, Zainal Abidin.
Bangil, NU Pasuruan – Dipenghujung akhir tahun, Jumat 31 Desember 2021. Pengurus Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Pasuruan bersama Institut Agama Islam Darullughah Wadda’wah (IAI Dalwa) mengundang enam pembicara dalam acara seminar nasional dan bedah buku “Tradisi Pendidikan Nilai di Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren”. Seminar ini dihadiri oleh para sarjana NU disetiap perguruan Tinggi se-Kabupaten Pasuruan serta perwakilan PAC ISNU di 24 kecamatan.
Direktur Pascasarjana IAI Dalwa Dr. Zainal Abidin, M.Pd. CIQaR yang hadir dan turut membuka acara secara resmi mengucapkan terima kasih atas kehadiran kader ISNU Pasuruan. Beliau menandaskan, perlu adanya rekonstruksi paradigma baru dalam dunia pendidikann Islam.
Pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Keberadaan pesantren seusia datangnya Islam itu sendiri, utamanya di Jawa. Meski begitu peran pesantren tidak banyak dibaca oleh beberapa kalangan mengingat pesantren yang cenderung diam ditempat.
Perguruan tinggi di pesantren seperti IAI Dalwa ini hadir untuk membentengi santrinya yang tidak hanya sekedar mahir ilmu agama tetapi mereka juga mahir ilmu umum. Dalwa mencoba meningkatkan literasi dengan banyak membaca buku agar santi menjadi mandiri serta bangga dengan ilmu kita sendiri.
“Seperti strategi perang ‘Supit Urang’ Jenderal Soedirman yang membuat pasukan sekutu kewalahan. Beliau memepelajari dan mecontoh strategi pasukan Sulaiman Al-Qanuni Sultan Turki Ustmani dalam perang Mohacs yang membuat Eropa dan kerajaan-kerajaan Kristen lainnya trauma,” kata Habib Zainal, sapaan akrabnya.
Beliau juga menambahkan masa kemunduran Utsmani mulai terasa pasca wafatnya Sulaiman Al-Qanuni. Terdapat bebrapa hal besar yang menghancurkan Ustmani, yaitu melemahnya sistem birokrasi dan kekuatan militer, kehancuran perekonomian, serta kurangnya literasi pada masa itu sehingga nilai-nilai keislaman kurang diserap oleh generasi muda.
“Tentu, kita berharap kedatangan para tamu ini akan membawa kemanfaatan dan keberkahan bagi kita semua. Bedah buku karya dosen ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar kita meneliti perkembangan ilmu dalam bentuk literasi.” jelasnya Habib Zainal
Dr. Vialinda Siswati, M.Pd, penulis buku tersebut menjelaskan, pendidikan nilai dipesantren merupakan wujud kekhawatiran terhadap generasi muda yang rentan terpengaruh budaya negatif. Hal inilah yang mendorong diciptakannya sistem pendidikan yang mampu menanamkan nilai-nilai positif sehingga generasi muda memiliki kepribadian dan akhlak yang mulia.
“Pendidikan nilai di pondok pesantren dirancang dan disususn dengan berlandaskan ayat suci Al-Qur’an serta hadist, seperti kemandirian dan keikhlasan yang sangat diperlukan oleh generasi muda saat ini dalam membangun peradaban yang baik” tutur Ustadzah Vialinda.
Pembicara lainnya yang diundang ISNU dalam seminar ini ialah Dr. Kholili Hasib, M.Ud. Beliau menuturkan bahwa membangun peradaban diperlukan adanya ilmu. Ilmu yang paling penting sebagaimana dinyatakan oleh banyak ulama adalah ta’dib atau sopan santun. Adab inilah yang paling ditekankan di pesantren.
“Sistem pendidikan yang ada di pesantren menjadi daya tarik bagi perguruan tinggi lain yang ingin mengembangankan ma’had bagi mahasiswa dilembaganya,” ujar dosen yang khidmah di Dalwa tersebut.
Hal ini senada dengan apa yang diutarakan oleh pembicara lainnya, Dr. Ahmad Fauzi Hamzah, M.Pd. Tidak ada tempat yang layak untuk memunculkan karakter pemimpin yang baik selain pesantren. “Di pesantrenlah lembaga yang paling fokus perhatiannya dalam belajar mandiri serta keikhlasan. Dan yang tidak ada ditempat lain selain dipesantren adalah uswah khasanah” ujarnya.
Karena pesantren memiliki nilai yang bagus, seperti nilai adab. Mutu lulusan dari mahasiswa yang berbasis pesantren perlu ditingkatkan menjadi sebuah budaya.
“Tentu, untuk ikut membangun bangsa tidak hanya perlu punya banyak sekolah dan universitas. NU juga harus memikirkan kualitas lulusannya. Terutama untuk memenuhi kebutuhan bangsa di bidang ekonomi, kesehatan, dan teknologi.” Ucap Dr. Imaduddin, M.Pd yang juga diundang ISNU dalam seminar.
Pada acara yang digelar di Hotel Dalwa Syariah Bangil yang dihadiri kurang lebih 75 peserta ini, Ketua ISNU. Kab Pasuruan Dr. Ahmad Adip Muhdi, M.Pd, mengajak para sarjana untuk terus berkarya. Guru serta dosen yang hadir di dorong untuk melakukan penilitian dan pendampingan ke masyarakat.
“Selain memberi penghargaan kepada wisudawan terbaik. ISNU konsisten hadir dalam perkembangan pendidikan dengan membantu menerbitkan buku ilmiah,” ujar Pak Adip.
Pak Adip yang juga khidmat sebagai kepala Madrasah Assholah menuturkan, kurangnya NU saat ini adalah penelitian. Maka dari itu beliau akan terus membantu sarjana-sarjana yang ada di Pasuruan dalam menerbitkan hasil pemikiran terkait penelitian dalam mengembangakan pendidikan di Kabupaten Pasuruan.
Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Pasuruan kembali meluncurkan buku baru karya sarjana-sarjana NU Kabupaten Pasuruan. Yakni buku dengan judul “Mustafa Kemal, Sukarno, dan Abdurrahman Wahid: Bapak Pendiri Turki dan Indonesia Baru, Persamaan dan Perbedaan Politik Kenegaraan” yang ditulis oleh Dr. H. Abdulloh Shodiq, M.Pd., dan buku yang ditulis oleh Dr. Dewi Masitah, M.Si., dengan judul “Komodifikasi Paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Kajian Konflik Perebutan Pengaruh Elite Nahdlatul Ulama dan Salafi).”
“Kedua buku tersebut merupakan buku ke enam dan ke tujuh yang dicetak PC ISNU Kabupaten Pasuruan. Senin kemarin (22/2), kedua buku tersebut dikirim melalui via pos ke Sekolah Tinggi dan Universitas Islam seluruh Indonesia,” ungkap Dr. A. Adip Muhdi, MHi., selaku Ketua PC ISNU Kabupaten Pasuruan saat ditemui wartawan nupasuruan.or.id., Rabu Siang (24/2/2021).
“Penerbitan Buku tersebut diharap dapat memotivasi sekaligus menfasilitasi agar para sarjana yang ada di Pasuruan adalah Sarjana yang mau dan mampu melahirkan karya tulis ilmiah yang berbobot, juga bisa dikenal secara luas,” imbuhnya saat berada di Ruang Depan Gedung Graha PCNU Kabupaten Pasuruan, Warung Dowo Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan.
Lebih lanjut, Doktor Adip, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa Buku buku tersebut segera dapat nantinya dibeli di toko-toko buku baik secara offline maupun online.
“Tunggu ya. Sementara bisa menghubungi kami untuk mendapatkan buku-buku yanh diterbitkan ISNU,” pungkas alumnus UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta tersebut.
Bakat menulis merupakan kemampuan yang perlu diasah setiap saat supaya selalu berkembang dan meningkat menjadi lebih baik. Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan kemampuan dan produktivitas menulis, Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Pasuruan mengadakan Workshop Metodologi Penulisan Buku bagi guru dan dosen se-Kabupaten Pasuruan di Aula Rumah Inovasi PC LP Ma’arif NU Kabupaten Pasuruan. Ahad (20/12/2020).
Dengan tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Semua peserta pelatihan sangat antusias mengikuti kegiatan workshop hingga selesai. Adapun pemateri dalam Workshop tersebut ialah Irham Zuhdi, salah seorang penulis aktif di Pasuruan.
Ahmad Adip Muhdi, Ketua PC ISNU Kabupaten Pasuruan menjelaskan, pelatihan atau workshop diikuti perwakilan dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) ISNU se-Kabupaten Pasuruan.
“Selain perwakilan dari 11 perguruan tinggi di Kabupaten Pasuruan, workshop ini diikuti pula oleh utusan PAC ISNU di Pasuruan,” ujar Adip, sapaan akrabnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut bertujuan untuk menggali potensi menulis dari para kader Nahdlatul Ulama di Kabupaten Pasuruan. “Dari pelatihan ini, kami harapkan nanti semakin bermunculan penulis-penulis dari kader NU. Kami dari PC ISNU siap membantu menerbitkan karya-karya dari kader NU,” ungkap alumni UINSA tersebut.
Senada dengan Adip, KH Saiful Anam Chalim, Sekretaris PCNU Kabupaten Pasuruan mengungkapkan, masih banyak kader-kader NU yang belum ahli dalam menulis buku.
“Pelatihan ini sangat penting, karena kader-kader NU banyak yang ahli dalam menulis karya ilmiah seperti skripsi, tesis, dan disertasi. Namun, masih sedikit yang ahli dalam menulis buku dengan baik,” ungkap pria yang akrab dipanggil Gus Saiful saat menyampaikan sambutan di acara tersebut.