Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Pasuruan berkolaborasi dengan Pondok Pesantren Assholach Kejeron Gondangwetan serta Insan Mulia Publishing sukses menggelar Workshop Menulis Buku bagi Guru dan Dosen se-Kabupaten Pasuruan. Kegiatan ini berlangsung di Aula KH. Zainuddin, Pondok Pesantren Assholach, Sabtu (1/11).
Acara dibuka dengan sambutan Dr. Ahmad Adip Muhdi, M.H.I., Ketua PC ISNU Kabupaten Pasuruan, yang menekankan pentingnya membangun tradisi literasi di kalangan pendidik.
“Guru adalah penjaga peradaban ilmu. Dengan menulis, mereka tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga meninggalkan jejak keilmuan yang abadi,” ujar Dr. Ahmad Adip dalam sambutannya.
Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan hangat dari KH. Luthfil Hakim, M.Pd., Pengasuh Pondok Pesantren Assholach. Beliau menegaskan bahwa dunia pesantren dan akademisi harus bersinergi dalam gerakan literasi, karena menulis merupakan bagian dari jihad intelektual.
Sesi inti workshop diisi oleh Dr. Irsyadur Rofiq, Wakil Sekretaris PC ISNU Kabupaten Pasuruan sekaligus Direktur Insan Mulia Publishing, dengan materi bertema “Menulis dan Menerbitkan Buku Itu Mudah”.

Dalam penyampaiannya, beliau menguraikan empat tahapan penting dalam proses penulisan buku, mulai dari persiapan naskah, proses penulisan, revisi dan penyuntingan, hingga penerbitan.
“Menulis tidak harus menunggu sempurna. Tulis sedikit tapi rutin, karena konsistensi lebih penting daripada inspirasi sesaat,” ujar Dr. Irsyadur, menyemangati para peserta.
Beliau juga menambahkan,
“Setiap guru memiliki cerita dan pengalaman berharga. Jadikan itu bahan bakar untuk menulis buku ajar yang lahir dari kelas, dari realitas, dan dari hati.”
Workshop ini diharapkan dapat mencetak 70 judul buku karya guru dari berbagai jenjang — mulai dari RA, MI, MTs hingga MA — yang nantinya akan diterbitkan melalui pendampingan Insan Mulia Publishing.
Menurut Dr. Irsyadur, hasil workshop ini akan menjadi bukti nyata bahwa guru-guru Pasuruan mampu melahirkan karya ilmiah dan buku ajar yang tidak hanya mendidik, tetapi juga menginspirasi.
“Menulis buku ajar bukan sekadar berbagi ilmu, tetapi juga menanam nilai dan cinta dalam setiap halaman. Tulisan guru adalah jejak ilmu yang abadi,” tutupnya.
